Menparekraf: Bali Trail Running 2022 Perkuat Geliat Kebangkitan Parekraf Bali

  • -

Menparekraf: Bali Trail Running 2022 Perkuat Geliat Kebangkitan Parekraf Bali

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi penyelenggaraan “Bali Trail Running 2022” yang akan memperkuat geliat kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali. 

Saat menghadiri “Bali Trail Running 2022” di Kabupaten Bangli, Bali, Minggu (15/5/2022), Sandiaga mengatakan, event ini diikuti 509 peserta dari tanah air dan mancanegara yang menandakan tingginya antusiasme wisatawan untuk kembali menikmati keindahan alam Bali.  

“Bali Trail Running 2022” sendiri terbagi dalam dua kategori yakni 335 peserta lari 15 kilometer dan 174 peserta lari 30 kilometer. 

“Ini kita harapkan bisa terus memicu dan memacu kepulihan pariwisata dan ekonomi kreatif Bali,” kata Sandiaga.

Event ini, lanjut Sandiaga, juga berhasil membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Hal ini terbukti dengan keterlibatan sekitar 100 pekerja yang terlibat dalam pelaksanaan ajang lari yang melintasi kaki Gunung Batur ini.

Selain itu, Sandiaga mengungkapkan, berkat pelaksanaan event ini, hotel-hotel dan restoran yang ada di kawasan Kintamani juga dipenuhi oleh pengunjung. 

“Ini yang kita inginkan bahwa setiap event akan mendatangkan tamu, tamu akan menggeliatkan ekonomi, lapangan kerja terbuka, kesejahteraan masyarakat meningkat. Itu yang kita inginkan dari pemerintah pusat,” katanya.

Sandiaga sendiri ikut berlari di kategori 15 kilometer dan melepas para peserta trail running di garis start. 

“Race safe, stay safe, make sure you do care about the environment, and hopefully, this event will bring recovery for the tourism in Bali,” ujar Sandiaga.

Dalam kegiatan ini, Sandiaga didampingi oleh Direktur Event Nasional dan Internasional Kemenparekraf/Baparekraf, Dessy Ruhati; dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bangli, I Komang Charles.

Sumber : https://kemenparekraf.go.id/


  • -

Dorong Kebangkitan Pariwisata, GIPI Gelar Munas dan Travel Mart

Category : Berita

Jakarta (Paradiso) – Dalam upaya membangkitkan kembali sektor pariwisata yang terpuruk pasca pandemi Covid-19, GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) bersiap mengadakan Munas ke-2 sekaligus menggelar kegiatan GIPI Tourism Industry Mart yang pertama.

Kegiatan tersebut akan digelar pada 8-9 Juni 2022 di Sutera Hall Alam Sutera, Tangerang – Banten. Tidak kurang 35 Asosiasi Industri
Pariwisata Indonesia yang merupakan anggota GIPI akan hadir pada acara tersebut. Acara tersebut juga dijadwalkan akan dihadiri Gubernur dan Kementerian lembaga terkait.

Ketua Panitia Munas II GIPI, Panca R. Sarungu menjelaskan acara ini digelar dengan tujuan membangkitkan kembali sektor pariwisata yang terpuruk akibat pandemi covid-19, selain itu juga sebagai momen melakukan evaluasi pelaksanaan program kerja GIPI dan kinerja kepengurusan serta menyusun program kerja untuk tahun berikutnya.

“Tak kalah pentingnya juga sebagai ajang temu silahturahmi serta menyerap aspirasi para anggota GIPI dan DPD setelah sekian lama tidak bertemu akibat pandemi,” ungkap Panca Sarungu saat rapat daring persiapan Munas II GIPI di Jakarta, Minggu malam (24/04/2022).

Panca menambahkan selain sebagai ajang menjaga hubungan baik dengan sesama anggota GIPI, Munas tersebut juga diharapkan bisa meningkatkan kerjasama antar anggota dan membantu pemerintah dalam mempromosikan Pariwisata Indonesia.

“Sebab itu, selain Munas kita juga menggelar GIPI Tourism Industry Mart dimana akan ada 30 booth yang akan mempromosikan produk wisata dari anggota GIPI. Dihari kedua baru digelar Musyawarah Nasional ke-2 GIPI,” tutur Panca Sarungu.

Kegiatan travel mart ini, lanjut Panca, sejalan dengan tujuan Menparekraf Sandiaga Salahudin Uno dalam membangkitkan Pariwisata Indonesia kembali dan membuka lapangan kerja seluasnya, sebab itu GIPI Tourism Industry Mart merupakan event business to business yang berperan sebagai jembatan pemersatu dalam melakukan penawaran bisnis serta untuk mempromosikan produk milik anggota GIPI kepada calon pembeli khususnya dibidang pariwisata.

“GIPI Tourism Industry Mart ini menggunakan sistem Round Robin. Selain itu akan ada berbagi ilmu dari pakar industri pariwisata tentang bagaimana sektor pariwisata menjadi sumber devisa utama untuk Indonesia. Akan ada 200 peserta yang terdiri dari Seller dan Buyer,” ungkap Panca Sarungu.

Panca menjelaskan seller terdiri dari Perusahaan atau Instansi yang merupakan anggota GIPI, sedangkan buyer terdiri dari Biro Perjalanan Wisata (BPW), Agent Perjalanan Wisata (APW), Corporate, Asosiasi dan para industri pendukung pariwisata serta instansi lainnya.

Kesempatan sama, Ketua Umum GIPI, Didien Junaedy mengatakan Munas GIPI yang digelar 5 tahun sekali ini juga akan menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia terkait kebijakan kepariwisataan Indonesia kedepan.

“Ini ajang kumpul seluruh asosiasi pariwisata Indonesia, kami berdiskusi, tukar pendapat, menyampaikan aspirasi yang nanti kita hasilkan rekomendasi untuk pemerintah Indonesia dalam melakukan kebijakan pariwisata kedepan. Ini salah satu bentuk sumbangsih pikiran GIPI kepada pemerintah,” ungkan Didien Junaedy.

Didien berharap seluruh anggota bisa untuk saling mendukung pengembangan organisasi pariwisata di Indonesia, bisa mengelola organisasi pariwisata dan penerapan adaptasi baru paska pandemi.

“Dan juga membuka peluang baru dengan berbagai ide dan gagasan dalam menunjang sektor pariwisata. Kolaborasi efektif antara GIPI dengan Kemenparekraf maupun dengan organisasi lainnya dan dengan kalangan industri lainnya,” pungkas Didien Junaedy. (*)

Sumber : https://paradiso.co.id/


  • -

Pariwisata Global Diproyeksi Bangkit ke Masa Pra Pandemi pada 2023

Jakarta, CNN Indonesia — World Travel and Tourism Council (WTTC) memprediksi pariwisata global kembali ke masa sebelum pandemi pada 2023.
Mengutip Reuters, Kamis (21/4), Direktur WTTC Julia Simpson mengatakan perkembangan sektor pariwisata berpotensi menyalip pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia tahun depan.

Ia memperkirakan sektor pariwisata tumbuh rata-rata 5,8 persen mulai tahun ini sampai 2032 mendatang. Angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang hanya 2,7 persen.

Menurut Simpson, sektor pariwisata akan menciptakan 126 juta pekerjaan baru.

“Pemulihannya akan sangat luar biasa sehingga akan pulih dengan sangat kuat. Ini tentu saja tergantung pada pembukaan kembali China,” kata Simpson.

Saat ini, China masih terus menerapkan lockdown di tengah lonjakan kasus covid-19. Hal itu berdampak negatif untuk perdagangan global hingga perjalanan domestik dan internasional.

WTTC memperkirakan PDB industri perjalanan dan wisata mencapai US$8,35 triliun pada tahun ini dan meningkat US$9,6 triliun pada tahun depan atau ke tingkat sebelum pandemi.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/


  • -

Variasi Prospek Bisnis Pasca Covid-19

Menurut Dewan Perjalanan & Pariwisata Dunia awal Maret 2022, sektor perjalanan dan pariwisata global berada di jalur yang tepat untuk menghasilkan $8,6 triliun output ekonomi tahun ini 2022, 6,4 persen lebih rendah dari sebelum COVID-19 melanda.

Bahkan ketika permintaan untuk perjalanan meningkat, bisnis di seluruh industri menyadari bahwa mereka tidak dapat kembali ke bisnis seperti biasa. Perusahaan yang berhasil perlu mengkalibrasi ulang, mengatur ulang, dan bekerja lebih cerdas, bukan hanya lebih keras, karena faktor-faktor seperti perubahan kebiasaan konsumen, lanskap persaingan industri yang berkembang, dan perkembangan teknologi baru.

Pendekatan digital- akan sangat penting. Digitalisasi, melalui penggunaan analitik canggih, kecerdasan buatan, dan pembelajaran mesin, memungkinkan perusahaan perjalanan menemukan kembali diri mereka sendiri dengan model operasi inovatif dan metrik keberhasilan baru.

Pertanyaannya ialah bagaimana merek dan operator perjalanan dapat memikirkan kembali, menata ulang, dan mereformasi ekosistem perjalanan dalam kenormalan baru ini?

*Awal Maret 2022, diberitakan di Australia, hampir 60 penerbangan dijadwalkan mendarat di Australia dalam 24 jam pertama setelah pembukaan kembali perbatasan negaranya. TV Australia telah menayangkan klip reuni emosional antara anggota keluarga dan teman yang terpisah selama hampir dua tahun.
Kta perhatikan,Pemerintah Australia telah dengan hati-hati melonggarkan pembatasan perjalanan ke luar negeri dalam beberapa bulan terakhir karena keberhasilan kampanye imunisasi.
Di Madagaskar telah banyak dikabarkan Hotel Baru telah berkembang.
Para pejabat mengatakan bahwa 94,2% penduduk di atas usia 16 tahun telah divaksinasi penuh.

*Dari waspada COVID menjadi percaya diri
“Kami beralih dari waspada terhadap COVID menjadi percaya diri terhadap COVID dalam hal bepergian,” kata Perdana Menteri Australia Scott Morrison dikutip media.
Israel pun terbuka untuk turis yang divaksinasi dan tidak divaksinasi.
Sekarang turis dari segala usia dapat memasuki negara itu dengan dua tes PCR negatif (satu sebelum keberangkatan dan yang kedua setelah mendarat di Israel.)

*Eh,Italia segera membangun desa.
Bukan di Indonesia saja. Di Italia, telah tersebar berita bulan Maret yll. sebanyak 250 desa akan diluncurkan kembali, setelah dipertimbangkan oleh Rencana Pemulihan dan Ketahanan Nasional (NRRP)negeri itu. Desa-desa tersebut dinilai berisiko akan ditinggalkan penduduknya. Akan disediakan biaya 420 juta euro untuk menumbuhkan kembali 21 desa yang diidentifikasi oleh daerah dan provinsi otonom dan 580 juta euro untuk setidaknya 229 desa yang dipilih oleh publik. Pada akhir pekan terakhir bulan Mei, Fondo Ambiente Italiano (FAI), National Trust for Italy, akan berkolaborasi dengan masing-masing wilayah untuk menceritakan kisah 21 desa tersebut.

“Dua puluh satu desa itu akan hidup kembali. Mekanisme yang diinginkan oleh Kementerian Kebudayaan telah membawa daerah untuk mengidentifikasi proyek-proyek ambisius yang akan memberikan panggilan baru ke tempat-tempat indah. Kita harus menjalankan NRRP; ada jadwal waktu yang ketat, dan kami menghormatinya,” kata Menteri Kebudayaan Italia, Dario Franceschini.

Koordinasi yang luas telah dibentuk. Sang Menteri berbicara pada presentasi dengan Presiden ANCI, Antonio Decaro; Presiden Konferensi Daerah dan Provinsi Otonom, Massimiliano Fedriga; Koordinator Komisi Kebudayaan pada Konferensi Daerah, Ilaria Cavo; dan Profesor Giuseppe Roma, anggota Komite Nasional Desa dari MIC, mereka hadir.

[14.45, 6/4/2022] Ahmad Fajar: “Tujuan dari rencana Borghi yang dibayangkan oleh NRRP,” lanjut Menteri, “adalah untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkualitas dan mendistribusikannya ke seluruh negeri. Ini adalah titik awal untuk ide ini yang kemudian dikembangkan melalui diskusi dengan daerah, ANCI [Asosiasi Nasional Kota Italia] dan Komite Borghi.

“Kami meminta daerah untuk memilih desa di wilayah mereka dengan karakteristik ini yang akan dibiayai dengan 20 juta euro, ” kata dia semakin meyakinkn, make them visitable. The resources will be used for the establishment of new functions, infrastructures, and services in the field of culture,
[14.46, 6/4/2022] Ahmad Fajar: Di Indonesia memang terdapat gejala yang menarik. Menteri Pariwisata yang saat ini sangat akif, dialah yang mengajukan pertama kali gagasan dan wawasan agar Indonesia mengembangkan pariwisata dengan strategi focus membangun pariwisata desa,

Tapi dia juga akan terjun pada pencalonan Presiden tahun 2024. Kesibukan untuk itu umumnya diperkirakan akan mulai tahun depan 2023. Di kalangan bisnis pariwisatapun mulai beredar pertanyaan publik yang menaruh perhatian,….Mana nanti yang akan lebih kuat tarikan geraknya? Antara menuntaskan gagasan wawasan pariwisata desa untuk Indonesa yang telah dilahirkan sekaligus untuk dunia, oleh sang Menteri Pariwisata sendiri ataukah akan lebih menguras peluangnya untuk memenangkan pemilihan Presiden R.I.?Apa tanggapan Anda?Semakin diperlukan kejelian Anda untuk mengarahkan bisnis sedari sekarang di bidang pariwisata ini.**

Penulis : Arifin Hutabarat

Sumber Image : BeritaSatu.com


  • -

Sukseskan MotoGP 2022

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, melepas baru-baru ini keberangkatan 17 Komunitas motor dari Perkumpulan Wisata Otomotif Indonesia (PWOI) sebagai upaya menyukseskan balapan internasional MotoGP 2022 yang akan berlangsung di Pertamina International Street Circuit, Mandalika, NTB, pada 18-20 Maret 2022.

Menparekraf Sandiaga Uno saat melepas rombongan “Wonderful Ride dan Touring Road to Mandalika 2022” di halaman depan Gedung Sapta Pesona, Senin (14/3/2022) mengapresiasi antusiasme komunitas motor untuk melakukan touring demi menyukseskan MotoGP 2022 di Pertamina International Street Circuit, Mandalika.

Indonesia tercatat pernah menjadi tuan rumah MotoGP pada 1997 yang digelar di Sirkuit Sentul Bogor dan dimenangkan ketika itu oleh pebalap legendaris yang baru saja pensiun Valentino Rossi.

Event ini membuka peluang bisnis inbound, terutama dari masyarakat orang muda di Eropa dan Amerika. Walaupun pasarnya relative lebih kcil di Asia Pasifik namun cukup potensial untuk digarap. Dan jarak waktunya ke Hari-H masih cukup panjang untuk penggarapan pasar bukan?

Penulis : Arifin Hutabarat

Image Source : Obsesion News

 


  • -

Menparekraf: Kebijakan Bebas Karantina dan VOA Hadirkan Optimisme Baru Kebangkitan Ekonomi

Jakarta, 28 Maret 2022 – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan kebijakan yang diambil pemerintah dalam memberlakukan bebas karantina terhadap Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) ke Bali, Batam, dan Bintan dan kemudian diperluas ke 7 pintu masuk di Indonesia, memberikan dampak yang positif terhadap tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Dampak tersebut juga diperkuat dengan layanan Visa On Arrival (VOA) khusus wisata yang diberikan pemerintah kepada PPLN dari 42 negara ke Bali serta Batam dan Bintan.

FOTO: ILUSTRASI

“Ini adalah kebijakan yang tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu. Dan Alhamdulillah tidak memicu peningkatan kasus COVID-19,” kata Menparekraf Sandiaga Uno dalam “Weekly Press Briefing” yang dilaksanakan secara hybrid dari Gedung Sapta Pesona, Senin (28/3/2022). 

Pemerintah sendiri berencana memperluas fasilitas VOA ke beberapa entry point lain di Indonesia. Seperti Bandar Udara Kualanamu Medan, Soekarno-Hatta Tangerang-Banten, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makassar dan Sam Ratulangi Manado.

Namun Menparekraf memastikan rencana tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan melihat data-data yang ada. Khususnya dalam penanganan pandemi COVID-19 yang saat ini terus membaik serta penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin yang juga terus meningkat.

“Kami melihat bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara meningkat dan perluasan visa on arrival ini akan bertahap bertingkat dan berkelanjutan,” kata Menparekraf.

“Tentunya ini menjadi satu optimisme baru, momentum kebangkitan ekonomi kita dan bisa membuka peluang usaha dan lapangan kerja,” ujar Menparekraf.

Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Nia Niscaya, menjelaskan, kemudahan memasuki wilayah Indonesia memang memberikan dampak yang besar pada tingkat kunjungan wisatawan mancanegara.

Saat ini, kata Nia, pengguna terbesar layanan VOA khusus wisata adalah wisman dari negara-negara seperti Australia, Singapura, Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris.

“Jadi bisa dibilang kalau berdasarkan data sebelum pandemi, mereka adalah negara-negara yang spending-nya di atas rata-rata,” kata Nia Niscaya.

Revisi Target Kunjungan Wisman 

Meski saat ini tingkat kunjungan wisatawan mancanegara sudah menunjukkan peningkatan, Menparekraf Sandiaga Uno menegaskan bahwa belum ada rencana revisi terhadap target kunjungan wisatawan mancanegara di sepanjang tahun 2022.

Sebelumnya Kemenparekraf/Baparekraf menargetkan tingkat kunjungan wisman tahun ini antara 1,8 juta – 3,6 juta wisatawan mancanegara. Sementara untuk wisatawan nusantara, Kemenparekraf/Baparekraf menargetkan hingga 500 juta pergerakan/perjalanan.

FOTO: ILUSTRASI

“Per hari ini belum ada revisi, tapi kami terus pantau secara detail. Pertengahan tahun kami akan melakukan rakor, kami akan lakukan revisi kalau memang dirasa perlu,” kata Sandiaga. 

“Yang menjadi fokus kita saat ini adalah penciptaan situasi dan kondisi dimana kita akan bangkit. Kita persiapkan juga regulasi, kebijakan yang tepat saraan, tepat manfaat, dan tepat waktu. Pada saat nanti memang dapat dilakukan revisi, harus bisa dipastikan bahwa revisi yang achievable dan sustainable,” kata Sandiaga.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo; Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Wayan Giri Adnyani; serta seluruh pejabat eselon I dan II di lingkungan Kemenparekraf/Baparekraf.

Sumber : https://kemenparekraf.go.id/


  • -

Jawa Tengah Dipilih Menjadi Pelaksanaan ke Dua Indonesia Wellness & Health Tourism Expo 2022 setelah DKI Jakarta

Semarang, 19 Maret 2022,

PERKEDWI (Perhimpunan Kedokteran Wisata Kesehata Indonesia) Jateng mengelar Sosialisasi kegiatan IWHTE (Indonesia Wellness and Health Expo) Jateng 2022 dengan Gowes dan Jalan Santai PERKEDWI Jawa Tengah bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Tengah dan dengan beberapa perwakilan  Rumah Sakit.

 

Jawa Tengah terpilih menjadi pelaksanaan kedua Indonesia Wellness & Health Tourism Expo 2022 setelah sebelumnya pameran ini  sukses diadakan di DKI Jakarta bulan lalu. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pengembangan Wisata Kesehatan dan Kebugaran di Jawa Tengah.

Pada kegiatan yang  rencananya diadakan pada tanggal 27 – 29 Mei 2022 di Kota Solo ini, PERKEDWI Wilayah Jawa Tengah  mengandeng RajaMICE yang akan mengadakan  Pameran Kesehatan  dirangkaikan dengan Pelantikan PERKEDWI Jateng, Webinar Kesehatan, dan Solo KulineRUN.

Mukti E. Rahadian, MARS, MPH, Ketua umum PP Perhimpunan Kedokteran Wisata Kesehatan Indonesia (PERKEDWI) menjelaskan bahwa kegiatan expo/pameran ini merupakan salah satu platform untuk melakukan branding dan promosi Rumah Sakit yang memiliki layanan unggulan didalam ekosistem health tourism. Tujuan dari expo ini untuk mendekatkan jenis layanan unggulan yang dimiliki oleh para peserta expo yang memiliki layanan wellness, herbal, jamu yang tersaintifikasi sehingga masyarakat mengenali jenis layanan unggulan apa yang dimiliki oleh rumah sakit, klinik, maupun fasilitas layanan kesehatan lainnya yang ada di Indonesia.

Ivo Devi Kristyani, Sp.B, Ketua Terpilih Perhimpunan Kedokteran Wisata Kesehatan Indonesia (PERKEDWI) Jawa Tengah menjaelaskah bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah terbaik yang sangat berpeluang untuk dijadikan wisata kesehatan. Dikarenakan Rumah Sakit yang berada di wilayah Jawa Tengah sudah memiliki fasilitas kesehatan lengkap dan menunjang, sehingga tidak kalah bersaing dengan rumah sakit luar negri, didukung juga dengan dokter dokter sangat sudah sangat berpengalaman.

Elham Zuhdan, Perwakilan Dinas Kesehatan Jawa Tengah, menjelaskan bahwa Jawa Tengah merupakan wilayah yang sangat bepotensi untuk mengembangkan wisata kesehatan khususnya wellness & aesthetic. Wisata kesehatan sendiri merupakan kegiatan wisata yang mengedepankan peningkatan kesehatan, kebugaran fisik, serta pemulihan spiritual dan mental wisatawan. Bisa dilihat dari salah satu kota yang ada di Jawa Tengah yaiatu Tawamangu, Solo. Hal ini semakin menambah daftar daya tarik wisata kesehatan di daerah Jawa Tengah.

Panca Rudolf Sarungu CEO RajaMICE / CCO (Chief Community Officer) Tepanas menjelaskan bahwa Indonesia Wellness & Health Expo merupakan event/acara pertama yang memiliki konsep Produk layanan Unggulan setiap rumah sakit dipaketkan dengan hotel yang terdekat dari masing-masing rumah sakit dan
produk layanan unggulan tidak hanya ditawarkan saat Pameran berlangsung saja, tetapi akan di tawarkan keseluruh Indonesia melalui Asosiasi Travel Agent yang kerjasamanya sudah terjalin bekerjasama dengan Maskapai Penerbangan.

 


  • -

Menyandingkan Urbanisasi Dan Pariwisata

Jakarta – Urbanisasi telah banyak mengubah wajah Indonesia, Di masa awal kemerdekaannya, proporsi penduduk yang hidup di perkotaan hanya 10 persen. Saat ini telah mencapai 56 persen, dan 25 tahun mendatang diproyeksikan sebesar 70 persen. Inheren dengan proporsi ini, tingkat kesejahteraan dan standar hidup layak di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan, Indonesia memasuki era perkotaan (urban age).
Namun, ada paradoks yang muncul di balik catatan-catatan tersebut. Kesenjangan pembangunan terjadi antarwilayah. Wilayah Jawa mengalami tingkat urbanisasi paling tinggi. Untuk indikator ekonomi, wilayah tersebut mendominasi pertumbuhan ekonomi nasional hingga 59 persen (BPS, 2019). Sementara indikator demografi, wilayah tersebut memiliki proporsi konsentrasi penduduk mencapai 56,56 persen. Kesenjangan lainnya tampak pada disparitas tinggi penduduk miskin kota dan non-kota.

Pada 2017, terdapat 17,1 juta orang miskin di daerah non-kota, sementara di daerah kota 10,6 juta orang. Ini menunjukkan kondisi pembangunan tidak merata yang tinggi dalam pola urbanisasi di Indonesia; suatu perkembangan yang pesat dalam lingkup wilayah yang kecil dibarengi keterbelakangan perkembangan pada lingkup wilayah lain yang lebih luas. Di tengah situasi ini, perkembangan pariwisata dalam beberapa waktu terakhir memberikan garansi dalam mengatasi kebuntuan urbanisasi dengan menginisiasi pola baru urbanisasi di Indonesia yang berorientasi pada agenda pemerataan pembangunan di Indonesia.

Industri pariwisata di Indonesia dapat dilacak sejak akhir tahun 1960-an. Ketika itu, pemerintah menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu instrumen pembangunan nasional, tertuang dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Pemerintah kemudian merumuskannya ke dalam Pembangunan Lima Tahun (Pelita) I sampai V. Undang-undang yang mengatur secara khusus tentang kepariwisataan baru dikeluarkan pada 1990 melalui Undang-undang No. 9 tahun 1990. Ini terjadi karena, pada saat itu kebijakan politik pemerintah menempatkan industri pariwisata sebagai sektor utama untuk meningkatkan devisa negara dan pertumbuhan ekonomi.

Meski telah dimulai sejak tahun 1960-an, dampak industri pariwisata bagi pembangunan nasional belum menunjukkan hasil signifikan. Persepsi masyarakat yang melihat pariwisata secara negatif menjadi pemicu utama. Pariwisata cenderung diasosiasikan dengan aktivitas yang melanggar norma-norma kesusilaan dan merusak kebudayaan. Banyak tokoh agama dan pemuka masyarakat tidak berpihak kepada pembangunan pariwisata karena persepsi demikian. Ditambah lagi, informasi yang utuh tentang pariwisata masih sangat terbatas diterima oleh masyarakat. Pemicu lainnya, kehadiran industri pariwisata di masa-masa awal yang cenderung berorientasi pada penerimaan devisa negara menyebabkan masyarakat merasa tidak mendapatkan manfaat secara riil.

Dalam perkembangannya, terjadi reorientasi arah pengembangan industri pariwisata dengan berfokus pada peningkatan kesejahteraan dan mempersiapkan lapangan kerja untuk masyarakat. Undang-undang No. 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan yang tidak mempertimbangkan aspek manfaat riil untuk masyarakat kemudian direvisi, lalu melahirkan UU No. 10 tahun 2009. Selain itu, Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 menyebut kepariwisataan sebagai salah satu ujung tombak perluasan kesempatan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Ardika, 2019).

Persepsi negatif masyarakat tentang pariwisata perlahan berubah karena sosialisasi yang terus dilakukan dan penyebaran informasi yang utuh tentang pariwisata. Manfaat riil yang dirasakan masyarakat menjadi alasan lain berubahnya persepsi ini. Pada 2011, Kepariwisataan berkembang di banyak daerah di Indonesia. Dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS), Indonesia menetapkan 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yang tersebar di banyak daerah.

Manfaat pariwisata bagi pembangunan nasional baru menunjukkan hasil signifikan sejak 2015. Pemerintah menjadikan pariwisata sebagai leading sector pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan (Kemenpar, 2018). Untuk mencapai tujuan ini, pengembangan pariwisata dilakukan melalui pemetaan pelanggan/wisatawan dan penentuan jenis destinasi wisata; penyediaan akses baik akses data, akses pembiayaan, maupun akses/konektivitas antardaerah; dan perkuatan amenitas mendukung kebutuhan wisatawan di daerah wisata.

Strategi pengembangan ini melibatkan banyak aktor, yaitu akademisi sebagai konseptor, pemerintah sebagai regulator, swasta sebagai eksekutor, media sebagai katalisator, dan komunitas masyarakat sebagai akselerator. Strategi dan kolaborasi ini menghasilkan percepatan pembangunan sektor pariwisata hanya dalam waktu singkat. Indonesia menurut World Travel and Tourism Council (WTTC) berada di peringkat 9 dunia dalam hal perkembangan pariwisatanya. Bahkan untuk Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara yang paling cepat pertumbuhan pariwisatanya. Dan, sejak 2018 sektor pariwisata menempati urutan pertama dalam menyumbang devisa bagi negara, setelah pada 2015 menempati urutan keempat.

Menjawab Kebuntuan

Pengembangan kepariwisataan Indonesia memberi jawaban atas kebuntuan urbanisasi hari ini, kemudian menginisiasi perjalanan urbanisasi di Indonesia ke depannya. Jawaban atas kebuntuan urbanisasi hari ini ditelaah dari pergeseran paradigma kepariwisataan, strategi pengembangan pariwisata, dan pola pengelolaan kepariwisataan.

Dari aspek paradigma, menempatkan pariwisata sebagai industri semata menjadikan kepariwisataan sebagai hal yang eksklusif dimiliki oleh para pemodal dan penguasa. Sedangkan, masyarakat hanya menjadi objek yang dilibatkan untuk kepentingan penguasa (penerimaan devisa) dan pemodal (keuntungan ekonomi). Pertumbuhan ekonomi yang terjadi adalah pertumbuhan dalam tataran makro, sementara manfaat riil yang dirasakan oleh masyarakat, tidak tercapai. Paradigma inilah yang menjadikan pariwisata Indonesia di tahun 1960-an sampai 1990-an tidak berkembang signifikan, selain alasan persepsi masyarakat tentang pariwisata.

Memasuki abad ke-21, wacana pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjadi pembahasan negara-negara di dunia turut mempengaruhi paradigma kepariwisataan. Pariwisata tidak lagi dilihat hanya sebagai industri yang berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi mencakup peningkatan kualitas manusia secara holistik. Dengan paradigma baru ini, pariwisata menjadi instrumen yang mewujudkan pemenuhan kebutuhan ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan secara bersamaan. Sifatnya menjadi inklusif dengan peran masyarakat sebagai subyek yang memberdayakan dirinya sendiri melalui pariwisata.

Karena perluasan paradigma ini, strategi pengembangan pariwisata pun ikut berubah. Pemerintah dan swasta tidak lagi dominan dalam mengembangkan sektor pariwisata. Keterlibatan para akademisi, komunitas masyarakat, dan media massa sangat penting untuk memastikan kemanfaatan pariwisata secara holistik. Pemerintah dengan fungsinya sebagai pengatur tidak bisa otoriter untuk mengarahkan pariwisata hanya menguntungkan pihaknya, begitu pun pihak swasta tidak bisa sebebasnya mengambil keuntungan dari pariwisata tanpa memperhatikan batasan-batasan daya dukung alam.

Sebaliknya, masyarakat menjadi lebih leluasa untuk mendatangkan manfaat ekonomi dan sosial dari aktivitas pariwisata. Dan terakhir, untuk memastikan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, peran akademisi untuk melakukan kajian dan perencanaan, serta peran media massa sebagai kontrol dan katalisator aktivitas pariwisata menjadi sangat urgen.

Pariwisata sebagai instrumen pembangunan nasional yang bersifat inklusif menyediakan peluang terjadinya pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan di Indonesia. Satu wujud konkretnya hari ini adalah munculnya pariwisata perdesaan yang model pengelolaannya dilakukan melalui pariwisata berbasis komunitas (Community Based Tourism). Berkembangnya model kepariwisataan desa ini diidentifikasi melalui dua hal. Pertama, wacana pembangunan berkelanjutan yang menempatkan orientasi sosial dan kelestarian lingkungan sama pentingnya dengan orientasi ekonomi dalam pembangunan.

Desa sebagai hunian manusia memiliki warisan nilai-nilai sosial yang masih terjaga dengan baik. Selain itu, desa masih mempertahankan lingkungan alamnya yang tidak tersentuh oleh dampak negatif modernisasi. Dengan dua kondisi ini, desa menjadi role model dan memiliki posisi tawar penting dalam agenda paradigma pembangunan berkelanjutan.

Kedua, paradigma pembangunan berkelanjutan turut mempengaruhi preferensi masyarakat global dalam bidang pariwisata. Saat ini, berkembang tren pariwisata dunia yang mengarah kepada demasifikasi atau fragmentasi pasar. Tren ini disebabkan oleh bergesernya preferensi wisatawan untuk memilih produk-produk wisata yang menekankan unsur pengalaman, keunikan, dan kualitas. Desa memiliki semuanya itu, keunikan pengalaman sosial-budya dan keindahan alam yang masih terjaga.

Dengan adanya tren demikian, peluang peningkatan ekonomi masyarakat menjadi besar dan pemerataan pembangunan dapat terwujud, karena masyarakat menjadi aktor utama dalam mengembangkan pariwisata di desa. Dua contoh wisata perdesaan yang saat ini berkembang di Indonesia adalah Desa Wisata Pentingsari (Yogyakarta) dan Desa Wisata Nyegara Gunung (Bali).

Melalui pengelolaan kepariwisataan desa berbasis komunitas, desa menjadi lokus bertumbuhnya faktor produksi dan peluang usaha yang sepenuhnya dikelola oleh masyarakat. Lapangan-lapangan pekerjaan mulai bertumbuh di desa. Tenaga kerja terampil yang dimiliki oleh desa dapat mengisi lapangan pekerjaan ini. Dengan demikian, manfaat ekonomi secara langsung dirasakan oleh masyarakat. Jika 74 ribu desa di Indonesia yang memiliki keunikan lanskap dan budaya masing-masing memanfaatkannya untuk kepariwisataan desa, dampaknya akan sangat signifikan bagi pemerataan pembangunan. Sehingga, di satu sisi migrasi desa ke kota akan menurun dengan signifikan, di sisi lain infrastruktur ekonomi dan suprastruktur sosial-budaya daerah perdesaan akan terbangun dan menunjukkan ciri-ciri perkotaan.

Selain itu, berkembangnya kota-kota wisata di Indonesia sebagai implikasi ditetapkannya Kawasan Strategis Pariwisata Nasional dapat berkontribusi terhadap tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di Indonesia. Pengembangan kota-kota wisata yang menjadikannya sebagai pusat-pusat ekonomi baru di Indonesia dapat dilakukan melalui kemitraan publik dan swasta.

Sektor publik yaitu pemerintah kota memiliki peran kunci dalam mengembangkan strategi pariwisata, menyediakan dan mengelola ruang terbuka publik, membangun dan memelihara produk budaya dan alam untuk meningkatkan daya tarik wisatawan, serta memberikan hibah untuk menopang sektor swasta. Sedangkan sektor swasta memiliki peran dalam perencanaan, manajemen, dan pemasaran pariwisata di kota.

Kemitraan publik dan swasta dalam mengembangkan wisata kota berimplikasi terhadap perkembangan infrastruktur ekonomi dan suprastruktur sosial-budaya kota-kota tersebut. Kota kecil, sedang, bahkan daerah urban baru yang mengembangkan kota wisata akan menjadi pusat ekonomi aglomerasi baru yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Konsentrasi penduduk tidak lagi hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga menyasar pada daerah-daerah pertumbuhan ekonomi baru dari aktivitas pariwisata. Migrasi dari desa ke kota akan menyasar daerah-daerah baru ini, sehingga meminimalisir migrasi masuk ke kota-kota besar di Indonesia.

Agenda Studi ke Depan

Kepariwasataan dan urbanisasi adalah perpaduan yang relatif baru dalam diskursus pembangunan; setidaknya itu yang terjadi di Indonesia. Pertautan antara keduanya menghasilkan pola baru dalam urbanisasi sekaligus memberi jawaban atas tantangan pemerataan pembangunan. Daerah-daerah yang memiliki potensi besar di bidang pariwisata menjadi pusat-pusat aktivitas ekonomi, politik, sosial-budaya, dan modernisasi. Urbanisasi berlangsung seiring berkembangnya daerah-daerah tersebut sebagai pusat aktivitas manusia. Pola urbanisasi mulai berubah, tidak lagi hanya terkonsentrasi pada kota-kota besar yang merupakan pusat industrialisasi, melainkan berkembang dan menyebar ke daerah-daerah pariwisata.

Kajian tentang urbanisasi yang dipicu oleh pariwisata penting untuk dilakukan di Indonesia ke depannya, mengingat kepariwisataan menjadi leading sector pembangunan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian-penelitian serupa telah banyak di lakukan di negara lain, seperti di Australia yang dilakukan oleh Mullins (1994) terhadap kota Gold Coast dan Sunshine Coast dan di China yang dilakukan oleh Junxi Qian, Dan Feng, Hong dan Zhu terhadap kota Zhapo. Kedua penelitian ini sama-sama mengafirmasi tesis tentang urbanisasi pariwisata (tourism urbanization) sebagai penciptaan ruang-ruang konsumsi pada kota (kota yang dibangun untuk tujuan kesenangan).

Namun, terdapat perbedaan dalam satu hal dari kedua penelitian ini. Mullins melihat urbanisasi pariwisata pada kota Gold Coast dan Sunshine Coast adalah produk dari post-modern, sementara urbanisasi pariwisata kota Zhapo dibentuk oeh modernisasi di China. Kajian tentang urbanisasi pariwisata untuk kota-kota baru di Indonesia ke depan bertujuan untuk menelaah karakteristik tertentu dari bentuk urbanisasi pariwisata tersebut, dan diharapkan memberikan sumbangan besar bagi perkembangan urbanisasi dan wacana pemerataan pembangunan di Indonesia.

Sumber : https://news.detik.com/