GIPI: Yang Bisa Menyelamatkan Pariwisata Indonesia adalah Wisata Domestik

  • -

GIPI: Yang Bisa Menyelamatkan Pariwisata Indonesia adalah Wisata Domestik

Perahu pinisi bersandar di sekitar Pulau Kalong, Nusa Tenggara Timur, 2 Juli 2021. Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) “Kilau Digital Flores, Sumba, Timor dan Alor (Flobamora)” dapat memberikan hasil yang nyata guna mendukung pemulihan ekonomi nasional pascapandemi, serta mendukung pemulihan pariwisata nasional, khususnya destinasi super prioritas Labuan Bajo. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Jakarta – Selama 2021, Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menilai perjalanan domestik menjadi andalan dan tren berwisata selama 2021. Hal tersebut dapat dilihat dari pergerakan masyarakat di dalam negeri menuju sejumlah kawasan wisata dan event.

“Ribuan orang masuk lewat berbagai acara seperti World Superbike di Mandalika, lalu G20 di Bali,” kata Ketua GIPI Didien Junaedi, Jumat, 10 Desember 2021.

Menurut Didien, hal itu didorong oleh langkah pemerintah yang fokus kepada pengembangan kualitas destinasi wisata alih-alih kuantitas destinasi. Contohnya adalah penataan desa wisata.

“Ini adalah contoh pengembangan pariwisata Indonesia yang mulai membaik. Seiring dengan itu, banyak pula desa-desa wisata di sekitarnya yang juga dikembangkan, dan menjadi tempat yang safe karena tidak berkerumunan,” kata Didien.

Menurut Didien, pariwisata domestik adalah salah satu kunci bangkitnya industri tersebut di Indonesia serta mendorong pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. “Yang bisa menyelamatkan pariwisata Indonesia adalah pariwisata domestik, mengingat yang ditawarkan sudah lebih banyak sekarang ini,” ujarnya.

Meski begitu, Didien tak menampik bahwa masih ada tantangan yang harus dihadapi industri pariwisata untuk menyambut 2022. Salah satunya adalah masih belum konsistennya peraturan-peraturan yang diterapkan.

“Yang kedua adalah soal pendanaan, agar pendanaan pemerintah tersusun dengan baik tata kelolanya untuk pariwisata domestik,” kata Didien.

Menurut Didien, hal itu juga berpengaruh pada tren pariwisata ke depan yang masih belum bisa diprediksi menyusul pandemi Covid-19 yang belum usai. “Masih belum bisa diprediksi dengan tepat seiring dengan perubahan peraturan dan kebijakan,” ujarnya.

Sumber : Tempo.co